Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Toleransi Dalam Kehidupan Beragama

Problem Kehidupan Beragama di Tengah Masyarakat Bhineka
Indonesia adalah negara dengan masyarakt yang kompleks. Diantara kompleksitas itu ialah bahwa masyarakat Indonesia menganut beberapa kepercayaan dan agama. Kepercayaan dan agama dalam fikiran penganutnya diyakini sebagai sekumpulan ajaran yang benar, dan karenanya harus diikuti, untuk tujuan kehidupan yang baik, bahagia, sejah tera, bahkan selamat bukan saja didunia melainkan hingga akherat. Secara umum, keyakinan dalam kepercayaan dan agama menempuh format yang sama, yaitu KEBAHAGIAAN HIDUP---DI DUNIA---DI AKHERAT. Akan tetapi, format yang sama itu memiliki potensi untuk berbenturan satu sama lain.
Potensi benturan itu pertama-tama ada pada tingkat immaterial-konseptual. Kemudian pada tingkat material-operasionalal atas konsep itu. Sekalipun diandaikan bahwa benturan ditingkat immaterial-konseptual bukanlah masalah yang terlalu beresiko karena bentuknya yang immaterial, namun realitasnya faktor itulah yang menjadi titik picu dari kerawanan benturan yang dimaksud. Hal itu karena yang immaterial konseptual itu telah dimasuki, atau bahkan mungkin dikaitan dengan faktor sejarah, politik, ekonomi dan seterusnya yang esensinya adalah pergulatan eksistensi manusia juga. Yang kedua, karena sifatnya yang immaterial-konseptual itulah maka ia merupakan kekuatan inspirasi, motivasi, dan aksi, yang apabila tanpa “kendali” akan dapat memicu benturan ditingkat material-operasional. Sementara itu, tingkat material-operasional sebenarnya relatif rendah tungkat kerawanan benturannya oleh karena ini adalah tingkat yang dialami secara ril dan dapat dirasakan dan mudah dipertukarkan. Namun demikian, kualitas dan intensitas pengaitannya dengan dengan yang pertama (immaterial-konseptual) dapat meningkatkan kerawanan benturan. Dan ini amat berbahaya karena telah memasuki dunia fisik.
Hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan ini, pada masyarakat yang kompleks tidak bisa dipisahkan dengan masalah-masalah kehidupan lainnya, seperti masalah etnis, bahasa, kebudayaan, latar belakang kehidupan, tingkat pendidikan dan lainnya, melainkan salaing berkelindan antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang kemudian masalah kehidupan beragama menjadi lebih kompleks dari sekedar gambaran di atas. Akan tetapi, dilihat dari sisi positif, kompleksitas demikian sesungguhnya dapat merupakan kekuatan yang cukup dahsyat.
Paradigma yang kita ambil, sayangnya adalah paradigma menghindar dari masalah, atau mengatasinya. Maka dari itu jalan yang ditempuh ialah bagaimana kita mengeleminir masalah itu. Dan jalan pertama yang dapat kita temukan pertama ialah menumbuhkan toleransi. Menumbuhkan toleransi adalah menyentuh aspek immaterial-konseptual, bukannya aspek material-operasional yang bersifat langsung dan melahirkan pengalaman. Paradigma demikian, sekalipun cukup rumit, mungkin yang lebih baik. Akan tetapi, pencarian alternatif perlu juga difikirkan.
Kehidupan Beragama dalam Masyarakat Madani
Dalam kehidupan bernegara dikenal istilah “Civil Society”. Biasanya istilah ini menggambarkan perkuatan masyarakat terhadap dominasi pemerintah. Konsep-konsep yang sering dikaitkan dengan ini antara lain: “Demokrasi”, “Persamaan Hak”, “Kebebasan Individu”. Dimaksudkan dengan itu semua, negara tidak lagi memiliki kekuasaan absolut, sedemikian rupa sehingga rakyat hanya harus mengikuti dan mentaati apa yang dikehendaki pemerintah, melainkan rakyat harus diperhitunggakan sebagai kekuatan yang menentukan dalam kehidupan bernegara. Namun hal yang mendasar dari itu, ialah bahwa individu sebagai anggota masyarakat memiliki hak-haknya yang “bebas” untuk berekspresi, termasuk menjalankan, atau melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, termasuk keyakinan agama dan kepercayaannya. Ketika hal itu terjadi, maka kemungkinan benturan antara anggota masyarakat menjadi terbuka.
Masyarakat Madani mengandaikan “Civil Society” yang bebas konflik, jauh dari hal-hal yang dapat menimbulkan benturan-benturan, sekalipun di dalamnya ada kebebasan individu, termasuk kebebasan beragama. Atau dapat dikatakan bahwa masyarakat madani mengandaikan suatu masyarakat yang kehidupan agamanya justru melahirkan bukan saja kedamaian, melainkan juga menghadirkan kekuatan untuk maju dan berkembang. Kata “madani” yang berarti “peradaban” dihubungkan dengan kota “Madinah”, yaitu kota yang dibangun dan dipimpin oleh Rasulullah, yang dalam kehidupannya menjunjung kebebasan individu, termasuk kebebasan memeluk dan manjalankaan agamanya masing-masing, yang darinya melahirkan sebuah peradaban yang mencerahkan dunia.
Masyarakat yang dibangun Rasulullah itu memberikan tempat bagi kehidupan agama-agama yang dalam ajarannya sering difahami sebagai saling bertentangan dan dalam realitas sejarahnya saling berperang. Namun Rasulullah menyandingkan komunitas agama itu sedemikian rupa sehingga masing-masingnya saling menghormati dan bahkan saling membantu.
Kehidupan yang toleran antar masyarakat dengan jamak agama itu dengan demikian juga merupakan kekuatan dan modal bagi terciptanya masyarakat madani. Masyarakat madani tanpa kehidupan keagamaan yang toleran sulit dibayangkan akan terbentuk. Agama dalam diri manusia berada dalam keyakinan yang paling dalam dan paling kuat, sehinggga memiliki potensi yang cukup kuat untuk terjadinya “kekerasan” jika tidak tterkendali. Mana kala iitu terjadi, maka masyarakat madani tidak akan tercipta.
Pilar-Pilar Masyarakat Madani
Dari gambaran masyarakat madani yang dibangun Rasulullah, sesuatu yang patut digali ialah pilar-pilar yang menyebabkan masyarakat seperti itu dapat terbentuk. Ada beberapa pilar yang mungkin dapat dikemukakan disini :
  • Mengedepankan kesadaran kemanusiaan (Humanisme)
Yang mula-mula dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan atau tindakan adalah bahwa semuanya manusia. Hanya “manusia” yang diciptakan oleh Allah dan dimuliakannya, dan dinafikan dari hal-hal yang menyebabkan masing-masingnya berbeda, baik karena sifat-sifat bawaan khilqiyyah (seperti warna kulit, etnis, dst), maupun karena hal-hal khuluqiyyah, yang datang kemudian (seperti budaya, tabiat, pendapat, fikiran, dan keyakinan, serta agama). Dengan itu, maka dalam mengambil tindakan, atau pergaulan, dipisahkan antara manusia dan sifat-sifatnya yang ada, dengan fokus perhatian pada “manusia” atau “kemanusiaan”nya, melampaui batas-batas perbedaan apapun yang ada, termasuk perbedaan fikiran, keyakinan, dan agama..
  • Mengedapankan inisiatif diri (Ibda’ bi nafsik).
Sikap introspeksi dalam melihat kekurangan dan mengambil inisiatif dalam mempersembahkan kebaikan dan keunggulan telah jidikan patokan dalam mengambil kebijakan. Dengan demikian dalam setiap kebijakan yang diambil jauh dari “nafsu” menghakimi, menghukum, apalagi mendendam (orang lain) dan berangkat dari “semangat” memaklumi (tasaamuch), menolong (taraahum), melayani (tawaadu’), dan memberdayakan (ihyaa), dengan menjadikan dirinya sebagai teladan.
  • .Mengedepankan perspektif Masa Depan (Wal Aachiratu Khairun).
Kesadaran akan “proses” dikembangkan secara positif. Dengan demikian segala sesuatu difikirkan secara matang, hati-hati dan teliti, dan menyadari segala sesuatunya tidak akan terjadi serta merta (kun fayakun). Dengan demikian, maka keinginan, cita-cita, harapan tidak dipaksakan mendadak, namun dengan positif diusahakan dan diyakini keberhasilannya dii masa yang akan datang, bahkan melampaui titik akhir kehidupannya, sampai akhirat. Sikap ini telah dapat menghindari dari banyak tindakan ad hoc dan pemenuhan kepentingan sesaat.
  • Mengedepankan peraihan penghargaan Allah (Thalab Mardlaatillah).
Disadari betul keterbatasan-keterbatasan manusia, maka yang diupayakan adalah keridlaan Allah semata. Dengan itu, maka setiap kebijakan dan tindakannya tidak mengatasnamakan siapa-siapa, tidak mewakili kepentingan siapa-siapa, dan bukan dalam rangka apa-apa, kecuali memohonkan hidayah dan ridlanya. Dengan sikap seperti ini, berarti menghindar dari kebijakan dan tindakan yang merugikan seseorang, atau suatu kelompok dengan keuntungan orang atau kelompok yang lain.

Pilar-pilar itulah yang telah ditemukan dalam kehidupan masyarakat madani di masa Rasulullah, sehingga kehidupan agama dari masing-masing pemeluk mengalir apa adanya dan justru implementasi “keislamam” Rasulullah yang demikian itu, telah mengalirkan kehidupan beragama kearah yang dikehendaki dan diharapkan Islam, hingga melahirkan peradaban yang mencerahkan.
Menumbuhkan Kehidupan Beragama yang Positif pada Peserta Didik
Kehidupan beragama yang positif seperti diharapkan pada masyarakat madani tidak mungkin untuk datang serta merta, melainkan perlu diupayakan secara berkelanjutan sehingga menjadi budaya. Dianttaranya melalui pendidikan di sekolah, di dalam keluarga dan lembaga-lembaga formal lainnya.
Di sekolah mungkin dapat difikirkan aktivitas dengan penekanan-penekanan sbb:

No. Aspek Kehidupan Target Metode
  • Kehidupan Individu Peserta Didik v Penumbuhan pemahaman dan penguatan aqidah yang selamat
  • Pengamalan ajaran secara konsekwen,
  • Penghayatan manfaat ibadah atas kehidupan
  • Peraihan semangat humanisme yang lahir dari kesadarn ibadah, Diskusi,
  • Pembiasaan,
  • Refleksi
Kehidupan dengan Peserta Didik seagama v Tumbuhnya rasa setiakawan
  • Mekarnya kebersamaan dengan semangat humanisme Aktivitas Agama dan Kemanusiaan.
  • Role Playing,
  • Simulasi,
  • Refleksi
Kehidupan dengan Peserta Didik tidak seagama v Tumbuhnya rasa setia kawan dan kebersamaan dengan semangat humanisme. Aktivitas Kemanusiaan.
  • Role Playing.
  • Simulasi,
  • Refleksi

Rancangan diatas mendasarkan fikiran bahwa aspek immaterial-konseptual dibatasi sedemikian rupa dengan lebih menonjolkan aspek material-operasional kehidupan agama yang menonjolkan humanismenya. Asumsinya ialah kehidupan yang dapat dirasakan manfaat dan kebutuhannya secara bersama akan dapat mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan dari aspek immaterial-konseptual. Namun demikian, aspek ini perlu tetap ditumbuhkan untuk keperluan individu atau komunitas seagama dengan menghindari singgungan dengan komunitas lain, kecuali jika terjamin kkondusif. Nilai-nilai yang perlu ditanamkan ketika menyinggung aspek immaterial-konseptual ialah konsep yang menjadi pilar-pilar masyarakat madani tadi.

Etos Kerja Dan Toleransi

Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang.
Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi.
Dalam kehidupan pada saat sekarang, setiap manusia dituntut untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja seseorang akan menghasilkan uang, dengan uang tersebut seseorang dapat membelanjakan segala kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya ia dapat bertahan hidup. Akan tetapi dengan bekerja saja tidak cukup, perlu adanya peningkatan, motivasi dan niat.
Setiap pekerja, terutama yang beragama islam, harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami, karena pekerjaan yang ditekuni bernilai ibadah. Hasil yang diperoleh dari pekerjaannya juga dapat digunakan untuk kepentingan ibadah, termasuk didalamnya menghidupi ekonomi keluarga. Oleh karena itu seleksi memililih pekerjaan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi suatu keharusan bagi semua pekerjaan.
Etos kerja sangat berhubungan erat dengan toleransi . dalam menjalani pekerjaan etos kerja dan toleransi sangat dibutuhkan.toleransi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila tidak ada toleransi maka akan terjadi ketidak seimbangan social. Salah satu contoh toleransi dalam kehidupan social adalah toleransi antar umat beragama, toleransi dalambermasyarakat dan masih banyak yang lainnya.
 
Etos Kerja

Apa pengertian etos kerja? Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat .

Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok.
Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu:
  • Suatu aturan umum atau cara hidup
  • Suatu tatanan aturan perilaku.
  • Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .

Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif.
Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. Kesimpulannya, etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya .
Dari keterangan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kata etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita.
Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden.
Menurut K.H. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) .
Dengan demikian adanya etos kerja pada diri seseorang pedagang akan lahir semangat untuk menjalankan sebuah usaha dengan sungguh-sungguh, adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. Dengan etos kerja tersebut jaminan keberlangsungan usaha berdagang akan terus berjalan mengikuti waktu.
Fungsi dan Tujuan Etos Kerja
Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:
  • Pendorang timbulnya perbuatan.
  • Penggairah dalam aktivitas.
  • Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan .
Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S Purwadaminta, kerja berarti melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan . Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat. Sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita.
Nilai kerja dalam Islam dapat diketahui dari tujuan hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat, kebahagian hidup di akhirat adalah kebahagiaan sejati, kekal untuk lebih dari kehidupan dunia, sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan, perhiasan lading yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. Manusia sebelum mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. Ahli-ahli Tasawuf mengatakan:
Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, manusia harus mempunyai bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan. Manusia berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan, ada yang mengukur banyaknya harta, kedudukan, jabatan, wanita, pengetahuan dan lain-lain. Yang kenyataannya keadaan-keadaan lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia, bahkan justru dapat menyengsarakannya. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.

Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(Q.S. Al-Qashash: 77)

Pandangan Islam mengenai etos kerja, di mulai dari usaha mengangkap sedalam-dalamnya sabda nabi yang mengatakan bahwa niali setiap bentuk kerja itu tergantung pada niat-niat yang dipunyai pelakunya, jika tujuannya tinggi (mencari keridhaan Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti misalnya hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka) maka setingkat pula nilai kerjanya .
Etos kerja Islami
Adapun etos kerja yang islami tersebut adalah:
  • Niat ikhlas karena Allah semata,
  • Kerja keras dan
  • Memiliki cita-cita yang tinggi

Menurut Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u “ulumuddin” yang dikutip Ali Sumanto Al-Khindi dalam bukunya Bekerja Sebagai Ibadah, menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran.

Dengan demikian etos kerja Islami adalah akhlak dalam bekerja sesuai dengan nilai-nilai islam sehingga dalam melaksanakannya tidak perlu lagi dipikir-pikir karena jiwanya sudah meyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar.
Menurut Dr. Musa Asy’arie etos kerja islami adalah rajutan nilai-nilai khalifah dan abd yang membentuk kepribadian muslim dalam bekerja. Nilai-nilai khalifah adalah bermuatan kreatif, produktif, inovatif, berdasarkan pengetahuan konseptual, sedangkan nilai-nilai ‘abd bermatan moral, taat dan patuh pada hukum agama dan masyarakat.Toto Tasmara mengatakan bahwa semangat kerja dalam Islam kaitannya dengan niat semata-mata bahwa bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menggapai ridha Allah, sebab itulah dinamakan jihad fisabilillah .
Ciri-ciri orang yang memiliki semangat kerja, atau etos yang tinggi, dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya, diantaranya:
  • Orientasi kemasa depan.
Artinya semua kegiatan harus di rencanakan dan di perhitungkan untuk menciptakan masa depan yang maju, lebih sejahtera, dan lebih bahagia daripada keadaan sekarang, lebih-lebih keadaan di masa lalu. Untuk itu hendaklah manusia selalu menghitung dirinya untuk mempersiapkan hari esok.
  • Kerja keras dan teliti serta menghargai waktu.
Kerja santai, tanpa rencana, malas, pemborosan tenaga, dan waktu adalah bertentangan dengan nilai Islam, Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu harus di isi dengan 3 (tiga) hal yaitu, untuk meningkatkan keimanan, beramal sholeh (membangun) dan membina komunikasi sosial, firman Allah:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
Artinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr: 1-3)
  • Bertanggung jawab.
Semua masalah diperbuat dan dipikirkan, harus dihadapi dengan tanggung jawab, baik kebahagiaan maupun kegagalan, tidak berwatak mencari perlindungan ke atas, dan melemparkan kesalahan di bawah. Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا.
Artinya:
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(Q.S. Al-Isra’: 7)
  • Hemat dan sederhana.
Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, laksana seorang pelari marathon lintas alam yang harus berlari jauh maka akan tampak dari cara hidupnya yang sangat efesien dalam mengelola setiap hasil yang diperolehnya. Dia menjauhkan sikap boros, karena boros adalah sikapnya setan.
  • Adanya iklim kompetisi atau bersaing secara jujur dan sehat.
Setiap orang atau kelompok pasti ingin maju dan berkembang namun kemajuan itu harus di capai secara wajar tanpa merugikan orang lain.
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah: 148)


Sebagai orang yang ingin menjadi winner dalam setiap pertandingan exercise atau latihan untuk menjaga seluruh kondisinya, menghitung asset atau kemampuan diri karena dia lebih baik mengetahui dan mengakui kelemahan sebagai persiapan untuk bangkit. Dari pada ia bertarung tanpa mengetahui potensi diri. Karena hal itu sama dengan orang yang bertindak nekat. Terukir sebuah motto dalam dirinya: “The best fortune that can come to a man, is that he corrects his defects and makes up his failings” (Keberuntungan yang baik akan datang kepada seseorang ketka dia dapat mengoreksi kekurangannya dan bangkit dari kegagalannya .